Pemdes Tlogorejo Gelar Upgrading Kader BKB dan Penyuluhan Tentang KB

tlogorejo-bjn.desa.id – Guna mewujudkan keluarga Indonesia sehat Pemerintah Desa bersama TP PKK Desa Tlogorejo dan Penyuluh KB Kecamatan Kepohbaru Laksanakan UPGRADING KADER BKB dan PENYULUHAN TENTANG KB, selasa 08/03/2022.

Kepala Desa Tlogorejo Drs. H. Moh. Hamim memaparkan, Keluarga Berencana (KB) adalah gerakan untuk membentuk keluarga yang sehat dan sejahtera dengan membatasi kelahiran yang bisa dilakukan dengan penggunaan alat-alat kontrasepsi atau penanggulangan kelahiran seperti kondom, spiral, IUD, dan sebagainya. Gerakan keluarga berencana diartikan sebagai upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui upaya pendewasaan usia perkawinan, pengendalian kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, dan peningkatan kesejahteraan keluarga dalam rangka melembagakan dan membudidayakan norma keluarga kecil bahagia dan sejahteraan, paparnya.

Program KB juga secara khusus dirancang demi menciptakan kemajuan, kestabilan, dan kesejahteraan ekonomi, sosial, serta spiritual setiap penduduknya. Program KB di Indonesia diatur dalam UU N0 10 tahun 1992, yang dijalankan dan diawasi oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Untuk mendukung program KB yang dicanangkan oleh Pemerintah Pusat dan diatur oleh Undang-Undang, tegasnya.

Dirinya juga menambahkan, penyuluhan tentang KB yang digelar hari ini sebagai upaya peningkatan kesadaran masyarakat dan kesehatan keluarga, karena permasalahan KB bukan hanya menyangkut kelahiran dua anak saja. Tapi meliputi aspek kesehatan dan kesejahteraan bagi keluarga,pungkasnya.

Sementara itu, Penyuluh KB Kecamatan Saefudin mengatakan penurunan angka kematian ibu (AKI) adalah salah satu tujuan dari keluarga berencana. Selain itu, perencanaan kehamilan sebagai ruang lingkup keluarga berencana juga penting untuk mencegah terjadinya stunting.

“Untuk menyukseskan KB maka kuncinya adalah menghindari 4 terlalu,” kata dia.

Empat terlalu itu meliputi: terlalu muda untuk hamil, usia terlalu tua untuk hamil, terlalu dekat jarak kehamilan, dan terlalu banyak/sering hamil.

Di masa pandemi, kehamilan muda malah meningkat tajam. Program keluarga berencana di Indonesia malah menunjukkan perkembangan negatif.

Ini diakibatkan banyak keluarga yang tidak memakai KB atau melepasnya. Banyaknya pernikahan anak turut menyumbang angka kehamilan di Indonesia.

“Dari Januari sampai Maret 2021 saja, angka dispensasi menikah di Kabupaten Bojonegoro meningkat hampir 100 persen. Ini terjadi dalam tiga bulan saja,” kata dia.

Padahal, pernikahan dan kehamilan pada anak dapat mengakibatkan peningkatan resiko melahirkan anak stunting.

Melanjutkan pembicaraan, Saefudin selaku penyuluh KB berpesan bahwa KB bukan hanya soal kesehatan, tapi juga kesejahteraan dan kebaikan seluruh anggota keluarga.

Menurutnya, perencanaan anak dan perencanaan keuangan harus seimbang agar nantinya anak yang dilahirkan dapat diasuh dengan baik. Salah satu caranya adalah melalui KB.

“Kalau kita punya anak, harus rumat (bisa mengasuh). Jangan sampai kita hanya bisa membuat anak tapi tidak rumat pada anak kita. Maka jangan sampai terlalu banyak anak, kalau nantinya tidak bisa merawatnya,” pungkasnya. (Red-@PS)