Disnakan Berikan Bimtek Pengolahan Limbah Ternak, Desa Tlogorejo

Untuk meningkatkan pemahaman atau Sumber Daya Manusia (SDM) bagi Kelompok Ternak, Kelompok Tani dan Karang Taruna yang ada di Desa Tlogorejo, Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro untuk mengembangkan usaha peternakan, Dinas Peternakan (Disnak) gelar Bimbingan Teknis pelatihan pengolahan limbah ternak, Rabu (19/8/2020).

Kepala Desa Tlogorejo “Drs. H. MOH. HAMIM, M. Mpd” saat memberi sambutan

Kepala Desa Tlogorejo Drs. H. MOH. HAMIM, M. Mpd,dalam sambutannya menyampaikan Ucapan terima kasih kepada Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro yang telah memberikan Bimtek Pengolahan Limbah Peternakan dan Pembuatan Pupuk Organik Cair.

“Kegiatan Bimtek yang digelar hari ini di harapkan semoga bermanfaat untuk warga masyarakat desa,pelatihan yang digelar hari ini semoga juga dapat menumbuh kembangkan SDM dan kami pemdes Tlogorejo mengajak Perwakilan Kelompok Ternak, Kelompok Tani dan Karang Taruna serta seluruh warga masyarakat desa untuk bisa ikut andil menjalankan program ini”.tegasnya

Sementara Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bojonegoro Ibu Drh. Catur Rahayu. K. Msi, yang kebetulan tidak ikut hadir dan di wakili oleh Ibu Elvina Nuraini, S. Pt, MP dalam sambutannya menyampaikan peningkatan populasi ternak sapi secara nasional dan regional akan meningkatkan limbah yang dihasilkan. Apabila limbah tersebut tidak dikelola sangat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan terutama dari limbah kotoran yang dihasilkan ternak setiap hari.

Pembuangan kotoran ternak dengan sembarangan tentunya dapat menyebabkan pencemaran pada air, tanah dan udara (bau) yang pastinya berdampak pada penurunan kualitas lingkungan, kualitas hidup peternak dan ternaknya serta dapat memicu konflik sosial.

“Potensi limbah peternakan di Bojonegoro khususnya di Desa Tlogorejo, Kecamtan Kepohbaru ini masih belum sepenuhnya dikelola secara optimal, namun ada beberapa peternak yang sudah melakukan pengolahan limbah peternakan. Potensi keberadaan limbah tersebut yang berupa kotoran, urine, sisa pakan, bulu, kulit telor, tulang, tanduk dan isi rumen dapat diolah menjadi berbagai produk olahan dan turunan bernilai ekonomis tinggi antara lain pupuk organik (kompos, pupuk cair, biogas penghasil gas methan serta produk turunan lainnya,” kata Elvina Nuraini.

Maka dari itu lanjutnya, untuk memanfaatkan limbah tersebut, para peserta Bimtek yang diundang guna mengetahui tata cara mengelola limbah ternak agar dapat memiliki nilai ekonomis yang tinggi diharapkan bisa memanfaatkan dan menyerap pengetahuan yang diberikan oleh narasumber.

Sehingga nantinya bisa diterapkan di lingkungannya dengan harapan dapat memberikan dampak positif terhadap lingkungan serta peningkatan ekonomi bagi pelaku usaha ini. Selain itu juga dengan adanya pelatihan tersebut juga diharapkan bisa memberikan wawasan kepada kelompok peternakan.

Ibu Elvina Nuraini juga mengatakan, bahwa tujuan kegiatan ini digelar untuk memberikan tambahan pengetahuan dan keterampilan pengolahan limbah hasil ternak bagi peternak dan pelaku usaha peternakan, dinilai dapat meningkatkan diversifikasi produk olahan dan pemasaran hasil peternakan.

Kemudian menjalin kerjasama antar pengolah limbah hasil ternak, meningkatkan ketersediaan produk limbah hasil ternak, dan meningkatkan nilai pemasaran produk limbah hasil ternak dan meningkatkan pendapatan peternak atau pelaku usaha dibidang peternakan. Sub sektor peternakan dalam pembangunan nasional pertanian memiliki posisi strategis menyumbangkan devisa kepada negara dan meningktkan ekonomi pertanian.

“Posisi yang strategis ini harus selalu dipelihara dan dijaga, salah satunya dengan meningkatkan sumber daya manusia (SDm) melalui penyelenggaraan pelatihan teknik agribisnis hasil ternak. Saya mengajak Kelompok Ternak, Kelompok Tani dan Karang Taruna, bisa manfaatkan program ini dengan baik. Kalau kita serius, saya yakin perekonomian masyarakat akan meningkat. Dan Kita berharap, kelompok jangan pernah salah gunakan kegiatan ini,” tutupnya.(admin)